Pernahkah anda merasa bahwa segala teori tentang kebaikan terkadang berbenturan dengan realita yang ada ? saya pernah. Tapi sebelum membahasnya lebih jauh saya tidak mau ujub dengan merasa bahwa pengetahuan saya tentang teori kebaikan telah terimplementasi dengan baik dalam diri pribadi saya, mungkin itu hanyalah salah satu sifat sombong saya sebagai manusia yang merasa diri paling benar dan paling baik dari orang lain di sekitarnya.
Baiklah mari kita bahas, Senyum, sapa dan bertutur kata lembut, bagi sebagian kita ini adalah sifat - sifat baik yang universal, artinya siapapun orangnya, dari bangsa, ras, atau agama apapun akan mengakui bahwa teori kebaikan pertama yang saya sebutkan diatas adalah suatu hal yang baik. Tapi apa ironis, terkadang sifat seperti itu malah jadi cemoohan dalam pergaulan nyata utamanya dunia kerja ketika kita berhadapan dengan atasan misalnya. Kelembutan mencirikan orang yang tidak punya karakter, tidak "though" padahal realita dunia kerja membutuhkan orang - orang yang "tough" tadi. Apa yang salah, kelembutan atau realita hidup yang memang sudah tidak membutuhkan kelembutan ?
Jaga ucapan, seringkali disalahartikan dengan terlalu pendiam dan tidak ada inisiatif, terlalu pasif dan hal - hal seperti ini tentunya tidak cocok di dunia kerja yang dinamis. Tetapi apa salah kita jaga ucapan, untuk hanya mengucapkan hal - hal yang baik, hal - hal yang bisa dipertanggung jawabkan ? Menurut saya tidak salah, namun ternyata konsensus umum khususnya di dunia kerja terkadang memang memposisikan orang - orang yang mencoba konsisten dengan teori - teori kebaikan sebagai orang - orang yang dengan kata lain boleh dikatakan kuno / tidak mengikuti arus perubahan / realita kehidupan yang memang keras. Sekali lagi, apa yang salah Nilai - nilai kebaikannya atau memang realita hidup yang semakin keras karena kita enggan dan malu untuk kembali mengangkat nilai - nilai kebaikan sebagai nilai luhur yang perlu di hargai karena tidak semua orang mampu dan sanggup mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari - hari.
Dalam kehidupan manusia biasa nilai - nilai ideal kebaikan memang ada dan telah menjadi konsensus sosial maupun agama selama berabad - abad, namun perubahan zaman mungkin memang membutuhkan sikap yang ekstra bijak untuk menerapkan nilai - nilai tersebut dalam kehidupan sosial kita di lingkungan keluarga, masyarakat dan pekerjaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar